Kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM non-subsidi mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Tabalong. Para petani mengaku kesulitan mendapatkan solar untuk operasional alat dan mesin pertanian atau alsintan, sehingga sebagian penggunaan alsintan terpaksa dihentikan sementara.
Kondisi ini dirasakan langsung para petani dan penyuluh pertanian di sejumlah wilayah Tabalong. Kenaikan harga BBM membuat biaya operasional pertanian meningkat, terutama untuk penggunaan alat pengolahan lahan, penanaman, hingga panen yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Penyuluh Pertanian Ahli Pertama, Lia Susilawati, mengatakan para petani saat ini kesulitan mendapatkan solar di SPBU karena stok yang sering kosong. Selain itu, harga BBM yang diperoleh di luar SPBU juga jauh lebih mahal. Menurut Lia, sebagian petani akhirnya membeli biosolar subsidi dari pengecer dengan harga mencapai 20 hingga 25 ribu rupiah per liter agar aktivitas pertanian tetap berjalan.
Lia menambahkan, pihaknya bersama para petani sebenarnya telah mengusulkan rekomendasi pengambilan BBM subsidi khusus untuk kebutuhan alsintan di SPBU wilayah Tabalong. Namun hingga kini usulan tersebut masih belum mendapat kejelasan.
“Kami kemarin sudah berbincang juga dengan para petani dan diskusi dengan dinas. Kemarin sudah pernah mengajukan rekomendasi untuk pengambilan BBM subsidi untuk alsintan di SPBU yang ada di Kabupaten Tabalong, cuma hingga saat ini masih belum ada kejelasan. Semoga dari Pemkab Tabalong bisa mengakomodasi permasalahan BBM ini agar tidak berdampak ke para petani, khususnya di alsintan. Kami memerlukan alsintan yang lumayan banyak di sini untuk pengolahan tanah, tanam, hingga panen yang menggunakan BBM semua,” ujar Lia Susilawati, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama.
Dampak kenaikan BBM juga dirasakan para petani di Poktan Sukamaju Desa Juai. Kondisi kenaikan harga dan sulitnya mendapatkan BBM memberikan dampak besar terhadap hasil produksi pertanian. Menurut para petani, minat bertani mulai menurun karena tingginya biaya operasional.
“Kalau untuk produksi kami itu jelas banget pengaruhnya. Saat ini kesulitan mencari BBM, jadi petaninya juga tidak seberapa lagi meminati pertanian, artinya minat petani berkurang. Jadi untuk saat ini bertahan dulu, mungkin pas harga dan ketersediaan minyak kembali stabil jadi nyaman anggota kami bekerja lagi di lapangan,” ujar Fauzi, Pendamping Poktan Sukamaju Desa Juai.
Para petani saat ini memilih bertahan sambil menunggu harga dan ketersediaan BBM kembali stabil. Mereka berharap aktivitas pertanian dapat berjalan normal tanpa terbebani biaya operasional yang tinggi.
Muhammad Khairillah, TV Tabalong, melaporkan.
