Home Pertanian & Perkebunan Tantangan di Balik Lahan Oplah, Brigade Pangan Tabalong Butuh Dukungan Alsintan dan Irigasi

Tantangan di Balik Lahan Oplah, Brigade Pangan Tabalong Butuh Dukungan Alsintan dan Irigasi

by iin hendriyani

Brigade Pangan Muda Tangguh di Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong, menghadapi sejumlah tantangan dalam mengelola lahan optimalisasi seluas 256 hektare. Tantangan tersebut terutama terletak pada keterbatasan alat dan mesin pertanian serta infrastruktur irigasi.

Upaya peningkatan produksi pertanian melalui program optimalisasi lahan atau oplah di Kabupaten Tabalong masih dihadapkan pada berbagai kendala di lapangan. Brigade Pangan Muda Tangguh yang mengelola lahan di empat desa, yakni Takulat, Bahungin, Paliat, dan Sungai Buluh, hingga kini masih terkendala minimnya alat dan teknologi pertanian. Hal ini terungkap dalam kegiatan syukuran panen padi yang digelar di Desa Takulat pada 27 April 2026.

Kepala Divisi Panen Brigade Pangan Muda Tangguh, Rahmadi, menyampaikan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian atau alsintan dari pemerintah. Operasional di lapangan masih mengandalkan pinjaman alat dari masyarakat maupun brigade pangan di kecamatan lain.

“Untuk alat bantuan, kami Brigade Pangan Muda Tangguh sampai saat ini belum mendapatkan. Walaupun tanpa bantuan kami tetap menanam, tetapi untuk mengejar target tanam kami tidak mampu tanpa dukungan alat atau teknologi pertanian. Harapan kami alsintan bisa segera diberikan agar optimalisasi lahan berjalan maksimal, terutama untuk target tanam dua kali dalam setahun,” ujar Rahmadi, Kepala Divisi Panen Brigade Pangan Muda Tangguh.

Selain alsintan, kendala lain yang dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur irigasi, terutama saat memasuki musim tanam kedua yang bertepatan dengan musim kemarau. Penyuluh dan pendamping brigade pangan, Mirhad, mengatakan lahan yang dikelola belum memiliki sistem irigasi perpipaan yang memadai. Untuk sementara, pengairan hanya mengandalkan pompa air sederhana dari anak sungai dengan kapasitas terbatas.

“Kendala utama di musim tanam kedua adalah alsintan dan air. Irigasi perpipaan belum tersedia, sehingga tanpa dukungan alat dan infrastruktur tersebut, pelaksanaan tanam di lahan oplah menjadi sulit dilakukan,” ujar Mirhad, penyuluh dan pendamping Brigade Pangan Muda Tangguh.

Di sisi lain, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan. Dengan hanya 15 anggota, pengelolaan lahan ratusan hektare dinilai tidak memungkinkan jika dilakukan secara manual. Diperlukan dukungan teknologi seperti rotavator dan drone untuk mempercepat pengolahan lahan, perawatan tanaman, hingga pengendalian hama.

Sementara itu, tim teknis dari Kementerian Pertanian wilayah Tabalong, Heri Lestiawan, menjelaskan bantuan alsintan sebelumnya diprioritaskan untuk program cetak sawah rakyat pada tahun 2025. Namun pada tahun 2026, diharapkan bantuan tersebut dapat disalurkan untuk mendukung program optimalisasi lahan.

“Tahun sebelumnya bantuan alsintan difokuskan untuk program cetak sawah rakyat. Mudah-mudahan tahun 2026 ini bantuan alsintan untuk brigade pangan oplah bisa segera disalurkan sesuai kebutuhan, guna mendukung peningkatan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua kali tanam dalam setahun,” ujar Heri Lestiawan, tim teknis dan data Kementerian Pertanian.

Dengan berbagai kendala yang ada, Brigade Pangan Muda Tangguh berharap dukungan pemerintah dapat segera terealisasi. Ketersediaan alsintan dan infrastruktur yang memadai dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Tabalong secara berkelanjutan.

Muhammad Khairillah, TV Tabalong melaporkan.

You may also like

Leave a Comment