Mengantisipasi dampak musim kemarau ekstrem yang diprediksi terjadi April hingga Agustus 2026, DKP3 Tabalong melakukan berbagai langkah strategis. Mulai dari percepatan tanam, penyeleksian benih, hingga penguatan sarana irigasi. Upaya ini dilakukan agar produksi pangan tetap terjaga dan petani terhindar dari risiko gagal panen akibat kekeringan.
Musim kemarau ekstrem di Tabalong diprediksi akan terjadi mulai bulan April hingga Agustus 2026. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut di sektor pertanian, DKP3 Tabalong berkoordinasi intensif bersama Dinas PUPR dan pihak terkait lainnya.
Selain itu, DKP3 Tabalong juga telah mendorong petani segera melakukan percepatan tanam dengan menggunakan benih yang masa tanamnya lebih singkat, sehingga dapat mengurangi risiko gagal panen akibat kemarau panjang.
Kepala DKP3 Tabalong, Fahrul Raji, menyebut langkah ini menjadi strategi utama mengingat sektor tanaman pangan seperti padi, jagung, dan hortikultura menjadi yang paling rentan terdampak.
“Pertama, kita jangan terlalu khawatir karena kondisi seperti ini pernah terjadi. Kami berharap para petani segera melakukan percepatan tanam. Bagi yang sudah panen, segera lakukan pengolahan lahan dan percepatan tanam. Dinas DKP3 siap membantu dalam penyediaan benih,” ujar Fahrul Raji, Kepala DKP3 Tabalong.
Selain itu, dirinya juga mengimbau agar petani melakukan perawatan sarana pertanian seperti pompa air serta menjaga saluran irigasi agar tetap berfungsi optimal, serta menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Dengan langkah antisipatif ini, diharapkan produksi pangan di Kabupaten Tabalong tetap terjaga meski menghadapi ancaman El Nino, serta ketahanan pangan masyarakat tetap stabil.
Muhammad Khairillah, TV Tabalong, melaporkan.
