Home Harga Bapok Cabai Besar Tabalong Catat Surplus 58 Ton, Jadi Satu-Satunya Komoditas yang Melampaui Kebutuhan

Cabai Besar Tabalong Catat Surplus 58 Ton, Jadi Satu-Satunya Komoditas yang Melampaui Kebutuhan

by iin hendriyani

Di tengah kondisi produksi hortikultura yang masih didominasi defisit, Kabupaten Tabalong mencatatkan kabar menggembirakan dari komoditas cabai besar. Sepanjang Januari hingga April 2026, produksi cabai besar berhasil melampaui kebutuhan daerah dan mencatatkan surplus sebesar 58 ton.

Data Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKP3) Tabalong menunjukkan, cabai besar menjadi satu-satunya komoditas hortikultura yang mencatatkan surplus pada empat bulan pertama tahun 2026. Sepanjang periode Januari hingga April, produksi cabai besar mencapai 267 ton. Angka ini melampaui kebutuhan masyarakat Tabalong yang tercatat sebesar 209 ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi sebesar 58 ton.

Pencapaian ini menjadi angin segar bagi sektor pertanian Tabalong, mengingat sejumlah komoditas hortikultura lain masih mengalami kekurangan produksi. Cabai rawit, tomat, terong, timun, dan bawang merah tercatat masih defisit, dengan timun menjadi komoditas yang mengalami kekurangan terbesar hingga 289 ton.

Surplus cabai besar didukung oleh tingginya produksi dari Kecamatan Banua Lawas dan Muara Uya yang menjadi sentra utama budidaya cabai besar di Tabalong. Selain itu, permintaan cabai besar yang relatif lebih rendah dibandingkan cabai rawit juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya surplus.

Untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani, DKP3 Tabalong melakukan pengaturan pola tanam dan waktu panen agar produksi yang melimpah tidak menyebabkan harga jual merosot.

Meski demikian, petani hortikultura masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Mulai dari biaya produksi yang tinggi, fluktuasi harga pasar, hingga penanganan pasca panen yang belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan produk pertanian cepat rusak dan sulit bertahan dalam waktu lama. Kepala DKP3 Tabalong, Fahrul Raji, menyebut perubahan iklim dan cuaca yang sulit diprediksi menjadi kendala utama yang saat ini dihadapi petani di lapangan.

“Jadi untuk kendala memang ini kita bisa merasakan sendiri bahwa mungkin sekarang khusus iklim ini tidak bisa diprediksi, lalu untuk tanaman hortikultura juga terpaksa harus menyesuaikan dengan iklim cuaca yang selalu berubah ini. Ya kendala dari petani juga saat ini itu iklim cuaca yang tidak menentu, walaupun diprediksi saat ini padahal El Nino tapi masih ada hujan, nah itu juga kendala untuk kawan-kawan di desa melakukan penanaman,” ujar Fahrul Raji, Kepala DKP3 Tabalong.

Ke depan, DKP3 Tabalong menyiapkan sejumlah program untuk meningkatkan produksi hortikultura. Di antaranya dengan memperluas areal tanam sesuai kebutuhan pasar, meningkatkan kapasitas petani, serta membantu pemasaran hasil panen melalui berbagai program pemerintah, termasuk pasar murah.

Muhamad Khairillh, TV Tabalong, melaporkan.

You may also like

Leave a Comment