Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp17.000 per liter mulai dirasakan oleh masyarakat di Tabalong. Sejumlah pengguna mengaku terpaksa mempertimbangkan beralih ke Pertalite karena harga Pertamax dinilai terlalu tinggi dan membebani biaya operasional harian.
Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter membuat sebagian warga mulai menyesuaikan pola konsumsi bahan bakar mereka. Terutama bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk menunjang aktivitas dan mencari penghasilan sehari-hari.
Salah satunya diungkapkan oleh Fetri Susanto. Menurutnya, kenaikan harga BBM jenis Pertamax tergolong tinggi bagi masyarakat kecil. Karena itu, ia memilih beralih ke Pertalite agar pengeluaran operasional kendaraan dapat ditekan.
Fetri menilai, kenaikan harga Pertamax juga berpotensi berdampak pada sektor jasa dan transportasi. Lantaran kenaikan biaya bahan bakar tidak selalu dapat diikuti dengan penyesuaian tarif angkutan, sehingga menambah beban bagi pelaku usaha kecil dan pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi.
“Ya bagi kita yang masyarakat ini, masyarakat kecil ini tinggi, Pak. Berat rasanya. Karena kita dengan kendaraan kita sendiri mencari jasa angkutan. Jadi kalau Pertamax naik, otomatis angkutan juga kalau diminta naik kan berat juga orang. Jadi mau tidak mau ya terpaksa beralih ke Pertalite, Pak,” ujar Fetri Susanto, warga.
Senada dengan Fetri, Fajerianur Musadi mengaku masih menggunakan Pertamax untuk keperluan mobilitas sehari-hari. Namun, dengan harga baru yang berlaku saat ini, ia mulai mempertimbangkan untuk beralih ke jenis BBM yang lebih terjangkau apabila tersedia.
“Ada kemungkinan. Karena sudah harga yang terlalu tinggi ini kan. Kita harus mempertimbangkan juga untuk beralih ke yang lebih murah, kalau memang tersedia. Jadi permintaan Pian ini sebaiknya untuk pengaturan antrean? Harusnya ada pengaturan. Harus ada pengaturan memang untuk antrean, agar semuanya dapat kesempatan,” tutur Fajerianur Musadi, warga.
Fajerianur berharap agar distribusi dan ketersediaan BBM dapat terus dijaga, sehingga masyarakat memiliki kepastian dalam mendapatkan bahan bakar dan tidak terpicu oleh isu kelangkaan yang dapat menimbulkan kepanikan maupun spekulasi di tengah masyarakat.
Dano Nafarin, TV Tabalong, melaporkan.
