Kabut asap tebal kembali menyelimuti Kabupaten Tabalong pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Di tengah kondisi tersebut, BPBD Tabalong mendeteksi 13 titik panas atau hotspot, yang kini ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung ke lapangan.
Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Sipongi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, terdeteksi 13 titik panas di Kabupaten Tabalong dengan tingkat kepercayaan atau konfidensi sedang. Dari jumlah tersebut, delapan titik di antaranya terdeteksi di Desa Salikung, Kecamatan Muara Uya.
Menindaklanjuti temuan ini, BPBD Tabalong bersama KPH Tabalong dan Manggala Agni melakukan ground checking atau pengecekan langsung di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah titik panas yang terdeteksi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Tabalong, Syamsuddin Noor, menegaskan pemantauan titik panas terus dilakukan melalui berbagai sumber informasi, mulai dari deteksi satelit, patroli udara, laporan masyarakat, hingga media sosial.
“Dalam hal ini kita akan selalu pantau terus yah untuk hotspot, baik itu hotspot yang berasal dari laporan satelit, patroli udara, laporan dari masyarakt ataupun laporan dari media sosial yang masuk ke kita,” ujar Syamsuddin Noor, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Tabalong.
Terkait kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Tabalong, BPBD menyebut asap diduga tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah Tabalong, tetapi juga dapat terbawa angin dari daerah lain.
Diektahui secara kumulatif, jumlah titik panas di Tabalong sejak Januari hingga 24 Oktober 2026 telah mencapai 1.015 titik.
Sementara itu, data BPBD hingga 22 Oktober 2026 mencatat 194 kejadian kebakaran hutan dan lahan, dengan total luas lahan terbakar mencapai 507 koma 64 hektare.
Muhamad Khairillah, TV Tabalong, melaporkan.
