Memelihara anggrek ternyata tak selalu rumit. Seorang dokter ASN asal Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, berbagi tips sederhana merawat anggrek bagi para pemula. Berbekal pengalaman delapan tahun mengoleksi ribuan tanaman anggrek, dokter Aris Sandi menekankan pentingnya mengenali jenis anggrek sebelum memulai perawatan.
Ribuan anggrek dari berbagai penjuru Indonesia tumbuh subur di lahan samping rumah milik dokter Aris Sandi di Desa Garagata, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong. Koleksi yang diberi nama “Keracunan Orchid” ini bermula dari pemberian seorang teman pada tahun 2018 lalu, dan kini telah berkembang menjadi sekitar 2.500 hingga 3.500 tanaman.
Dokter Aris yang sehari-hari bertugas di Puskesmas Hayaping, Barito Timur, mengungkapkan bahwa setiap jenis anggrek memiliki cara perawatan yang berbeda. Anggrek bulan misalnya, lebih menyukai tempat teduh dan tidak tahan paparan sinar matahari langsung. Sementara jenis dendrobium justru lebih menyukai kondisi kering dan tidak boleh terlalu sering disiram.
“Bagi teman-teman yang baru memulai anggrek, yang pertama dulu kenali dulu anggrek apa yang mau dirawat. Kalau misalnya blank, dia bingung, ya sudah, ditaruhlah di tempat yang teduh, sejuk. Matahari pagi mungkin, jangan sampai matahari panas. Ya mungkin dari jam 7 sampai jam 9 sampai 10 masih aman lah untuk semua jenis anggrek. Dan juga jangan terlalu sering menyiram. Kadang kita mikirnya makin banyak disiram, lembab air makin cepat pertumbuhannya. Padahal anggrek nggak kayak gitu. Justru ketika dia terlalu banyak disiram, terlalu lembab, dia akan mudah terjadi pembusukan atau tumbuh jamur,” ujar Aris Sandi, kolektor anggrek.
Tak hanya soal perawatan, di rumah anggreknya Aris juga menyimpan sejumlah koleksi langka yang sulit ditemukan. Salah satunya adalah Phalaenopsis doweryensis, anggrek bulan endemik dari perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia yang kini hanya tersisa tiga pohon di koleksinya. Tak jauh berbeda, Phalaenopsis gigantea yang menjadi primadona koleksinya pun semakin sulit ditemukan di alam liar, seiring maraknya alih fungsi lahan yang merusak habitat aslinya.
Dokter Aris berharap hobi yang telah mengantarkannya meraih berbagai prestasi di tingkat lokal hingga nasional ini dapat menginspirasi masyarakat Tabalong untuk lebih dekat dengan dunia anggrek, sekaligus ikut menjaga kelestarian spesies endemik yang kian langka akibat alih fungsi lahan.
Muhamad Khairillah, TV Tabalong melaporkan.
