Komisi II DPRD Kabupaten Tabalong melakukan kunjungan kerja ke PT Astra Agro Lestari di Kecamatan Haruai guna menggali informasi terkait kondisi industri kelapa sawit, khususnya produksi crude palm oil (CPO) serta kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Kunjungan dilaksanakan pada 6 April 2026 di Kantor PT AAL 1.
Dalam kunjungan ini, Ketua Komisi II DPRD Tabalong, Winarto, menyoroti penurunan produksi CPO yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun, produksi CPO yang pada tahun 2021 mencapai sekitar 15.000 ton, kini pada tahun 2026 turun drastis menjadi sekitar 6.000 ton.
Menurut Winarto, penurunan ini berdampak langsung terhadap kontribusi sektor perkebunan sawit terhadap PAD Kabupaten Tabalong. Ia pun meminta penjelasan dari pihak perusahaan terkait penyebab penurunan tersebut, termasuk pola distribusi dan penjualan CPO.
Komisi II meminta kepada pihak perusahaan agar dapat membuka diri dan memberikan upaya-upaya bantuan kepada masyarakat secara luas, sehingga masyarakat yang ingin melakukan perubahan dari komoditas karet ke tanaman sawit dapat dibantu.
“Kita sudah meminta kepada pihak perusahaan bagaimana cara membuka diri dan memberikan upaya-upaya bantuan kepada masyarakat sekitar agar yang ingin melakukan ekspansi untuk perubahan komoditas, selama ini karet berubah ke sawit, tolong dibantu untuk pembinaan sehingga produksi mereka bisa cepat dan besar, sehingga mampu membantu menyuplai ke perusahaan ini, sehingga produksi di perusahaan kita bisa terpenuhi dari kapasitas yang telah disiapkan,” ujar Winarto, Ketua Komisi II DPRD Tabalong.
Menanggapi hal tersebut, pihak perusahaan melalui CD Area Manager PT Astra Agro Lestari Kalimantan Selatan, Agus Budiarto, menjelaskan bahwa penurunan produksi disebabkan oleh program peremajaan tanaman sawit yang sedang dilakukan. Program ini berdampak pada berkurangnya hasil produksi sementara waktu.
Selain itu, kontribusi dari kebun sawit milik masyarakat juga dinilai belum optimal karena belum banyak yang terintegrasi dalam rantai pasok perusahaan. Hal ini turut memengaruhi total produksi CPO di wilayah ini.
“Bahwa untuk perubahan komoditas karet ke sawit di Tabalong, memang masih agak sulit karena Tabalong dikenal sebagai sentra karet. Untuk bantuan pemerintah dan masyarakat terkait bibit sawit masih terbatas, hanya ada beberapa masyarakat yang secara mandiri melakukan perubahan tersebut walaupun tidak ada bantuan dari daerah,” ujar Agus Budiarto, CD Area Manager PT Astra Agro Lestari Kalimantan Selatan.
Agus juga meluruskan informasi terkait distribusi CPO. Ia menegaskan bahwa CPO tidak dijual ke wilayah Kalimantan Timur, melainkan hanya menggunakan fasilitas penampungan di Pelabuhan Tanah Grogot sebelum didistribusikan lebih lanjut melalui jalur laut. Ia menambahkan, hingga saat ini pemasaran CPO dari perusahaan masih difokuskan untuk pasar dalam negeri dan belum menjangkau pasar ekspor.
Muhammad Ariadi, TV Tabalong, melaporkan.
