Home UMKM Apoteker Herbalis di Tanjung Kembangkan Usaha Jamu Berbasis Ilmu Farmasi

Apoteker Herbalis di Tanjung Kembangkan Usaha Jamu Berbasis Ilmu Farmasi

by iin hendriyani

Berawal dari permintaan teman dan tetangga saat pandemi Covid-19 pada tahun 2020, seorang apoteker herbalis di Tanjung, Fitri Ayu Ningsih, mengembangkan usaha jamu dan minuman rempah. Berbasis ilmu farmasi dengan formulasi teruji dan proses produksi terkontrol, usaha ini kini melayani konsumen lokal hingga luar daerah melalui penjualan langsung dan pasar daring.

Usaha jamu ini dimulai saat banyak warga mengeluh batuk, flu, dan sesak napas di masa pandemi Covid-19. Meski sudah berobat ke dokter, sebagian mengaku proses penyembuhan cukup lama. Berlatar belakang sebagai apoteker yang juga memiliki sertifikasi herbalis, Fitri Ayu Ningsih kemudian meracik jamu botolan dengan dosis pengobatan sesuai permintaan konsumen.

Seiring waktu, produk yang dikembangkan semakin beragam, mulai dari kunyit asam sirih untuk wanita, kunyit asam untuk pria, jahe merah dengan campuran temulawak, kencur, dan kayu secang, hingga ramuan seroja berbahan bunga telang. Seluruhnya diformulasikan berdasarkan pengetahuan farmasi dan pengalaman praktik, dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu keluhan ringan.

Dalam proses produksi, bahan baku dipilih secara selektif, sebagian ditanam sendiri dan sebagian dibeli dari petani maupun pasar dengan proses sortasi ketat. Pengeringan dilakukan menggunakan oven food dehydrator dengan suhu di bawah 60 derajat Celsius untuk menjaga kandungan zat aktif. Produk tersedia dalam bentuk minuman rempah, simplicia kering, hingga ramuan racikan sesuai konsultasi pasien.

Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan marketplace, dengan jangkauan pengiriman hingga luar Kalimantan, seperti Jawa, Jakarta, Sulawesi hingga Papua. Ke depan, Fitri berencana mengembangkan gerai sehat yang menggabungkan minuman rempah dan pelayanan kesehatan tradisional, seperti akupuntur dan pijat refleksi.

Apoteker herbalis, Fitri Ayu Ningsih, juga menjelaskan sebagian pasien masih memilih obat kimia karena dianggap memberikan hasil lebih cepat. Namun ia menyebut obat herbal memang tidak instan, tetapi cenderung memberikan efek pemulihan yang lebih bertahan dan tidak mudah kambuh. Perbedaan tersebut menjadi edukasi bagi masyarakat dalam memilih jenis pengobatan sesuai kebutuhan.

“Terus ada juga beberapa pasien yang maunya obat kimia saja, katanya sudah biasa obat kimia dan hasilnya instan. Kalau obat herbal kan memang tidak instan. Tapi untuk cepat kembalinya sakit lagi kan tidak secepat instan obat kimia. Nah itu berbeda. Irreversible sama reversible-nya beda. Seperti itu,” ujar Fitri Ayu Ningsih, apoteker herbalis.

Dengan latar belakang keilmuan dan sertifikasi yang dimiliki, usaha jamu ini diharapkan menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan secara alami, namun tetap berbasis ilmu dan konsultasi profesional.

Muhammad Khairillah, TV Tabalong melaporkan.

You may also like

Leave a Comment