Memasuki puncak musim kemarau, Satpol PP dan Damkar Tabalong mencatat tiga kejadian kebakaran permukiman hingga 21 Agustus 2026. Kondisi cuaca yang kering, ditambah mayoritas bangunan berbahan kayu, membuat api lebih cepat merambat.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP dan Damkar Tabalong, Muhammad Jahyani, yang diwawancarai di ruangannya pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Jahyani menuturkan, dari tiga kejadian kebakaran permukiman yang ditangani selama Agustus, salah satu yang terbesar terjadi di Desa Pudak Setegal, Kecamatan Kelua. Kebakaran ini menghanguskan tujuh bangunan, terdiri dari satu toko mebel dan enam rumah penduduk.
Menurut Jahyani, kondisi musim kemarau turut memperbesar risiko kebakaran, terlebih masih terdapat rumah warga yang menggunakan material kayu. Dari sejumlah kejadian yang ditangani, kebanyakan kebakaran diduga berawal dari kelalaian manusia, seperti kebocoran gas, lupa mematikan kompor, hingga kompor yang mengalami masalah.
“Karena biasanya kalau mendekati musim hujan, untuk kebakaran permukiman itu relatif lebih landai dibandingkan di musim kemarau ini. Karena kemarau ini, apalagi di tempat kita masih banyak rumah yang bangunannya masih berbahan dasar kayu, ini sangat mudah untuk terpapar api. Dari beberapa kejadian kebakaran yang kita tangani, rata-rata penyebabnya itu ya biasanya dari dapur ya. Entah itu karena kebocoran gas, ada yang kompor meledak, ada yang lupa mematikan kompor,” kata Muhammad Jahyani, Kabid Pemadam Kebakaran.
Jahyani menambahkan, mengantisipasi risiko kebakaran di musim kemarau, personel Damkar Tabalong masih disiagakan selama 24 jam dengan sistem dua regu bergiliran. Masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam beraktivitas, khususnya saat menggunakan kompor, gas, dan peralatan listrik.
Dano Nafarin, TV Tabalong, melaporkan.
