Home Pendidikan Dari Speech Delay ke Panggung Khatmul Quran, Kisah Zidan Jadi Inspirasi

Dari Speech Delay ke Panggung Khatmul Quran, Kisah Zidan Jadi Inspirasi

by iin hendriyani

Di balik kemeriahan Khatmul Quran dan Imtihan ke-11 SD Hasbunallah, terdapat kisah mengharukan dari salah satu pesertanya. Rifqi Zidan Faras, siswa yang sebelumnya mengalami gagap atau speech delay, kini mampu tampil dalam dua kategori sekaligus, yakni tahfidz juz 30 dan tartil. Perjalanan panjang dan ketekunannya dalam belajar Al-Quran menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang.

Rifqi Zidan Faras menjadi salah satu peserta yang paling menyita perhatian dalam kegiatan Khatmul Quran dan Imtihan Metode Ummi ke-11 SD Hasbunallah yang digelar di Aula Aston Tanjung City Hotel pada 19 Mei 2026. Zidan tampil mengikuti dua kategori sekaligus, tahfidz juz 30 dan tartil. Sebuah pencapaian yang tentu tidak mudah untuk diraihnya.

Perjalanan Zidan terbilang cukup panjang. Pasalnya, sebelum berhasil seperti sekarang, ia memiliki kekurangan dalam berbicara atau yang dikenal dengan istilah speech delay. Orang tua Zidan, Eka Noorhayati, menceritakan, dalam proses belajar Metode Ummi yang mengharuskan penyebutan huruf dilakukan dengan cepat, putranya sangat kesulitan. Bahkan, Zidan harus menghentakkan kaki atau menepuk pahanya terlebih dahulu baru bisa menyebut sebuah huruf, sehingga untuk naik ke halaman berikutnya di buku Metode Ummi pun membutuhkan waktu beberapa hari.

Namun, berkat dorongan orang tua dan ketekunan Zidan dalam belajar Al-Quran, Eka Noorhayati mengaku terharu menyaksikan capaian sang buah hati hari ini. Zidan bahkan kini sudah mampu berlomba hingga tingkat MTQ kabupaten dan tiga provinsi.

“Dan alhamdulillahnya lagi, Allah Maha Baik, bahkan Allah itu ternyata memberikan kemudahan berbarengan dengan kesulitan. Jadi kekurangan Zidan itu ternyata bisa dilawan dan akhirnya juga sekarang bisa, selain Al-Quran itu bisa sampai MTQ tingkat kabupaten dan tiga provinsi, dia juga sering menjuarai lomba azan, lomba tartil. Jadi alhamdulillah ternyata ketakutannya itu bisa dilawan, alhamdulillah berkat latihan itu terus menerus. Jadi bagi anak-anak yang mempunyai kekurangan jangan patah semangat, lawan ketakutan kalian, insyaallah dengan belajar yang tekun kalian akan berhasil dan setelah berhasil jaga terus hafalannya, cintai Al-Quran dan jadi anak yang saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua dan itulah hadiah terindah untuk kedua orang tua, semoga kelak di akhirat kalian bisa memakaikan mahkota untuk ayah bunda di surga,” ujar Eka Noorhayati, wali murid.

Kisah Zidan menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan ketekunan, dukungan orang tua, dan kecintaan terhadap Al-Quran, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi dan membanggakan kedua orang tuanya.

Muhamad Khairillh, TV Tabalong, melaporkan.

You may also like

Leave a Comment