Peternak sapi di Tabalong memperkirakan harga jual sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh perubahan aturan perizinan dalam mendatangkan sapi dari luar Pulau Kalimantan yang dinilai menyulitkan, sehingga berdampak pada terbatasnya pasokan ternak di daerah.
Hal tersebut diungkapkan Ponirin, salah satu peternak sapi di Tabalong. Ia mengatakan, tahun ini tidak mendatangkan sapi dari luar pulau seperti tahun-tahun sebelumnya yang biasanya berasal dari Sulawesi, NTB, dan Bali. Kondisi ini dipengaruhi oleh aturan perizinan yang dinilai lebih ketat, serta tingginya harga sapi dari luar daerah.
Kenaikan harga sapi diperkirakan mencapai 2 hingga 15 juta rupiah per ekor. Ponirin mencontohkan, sapi yang sebelumnya dijual seharga 20 juta rupiah kini diperkirakan naik menjadi sekitar 22 juta rupiah per ekor. Sementara untuk sapi berbobot besar, dari harga sekitar 60 juta rupiah tahun lalu diperkirakan meningkat menjadi 75 hingga 80 juta rupiah per ekor tahun ini.
“Tahun ini kayaknya harga sapi jauh naik daripada tahun sebelumnya. Masalahnya sapi dari luar tidak ada yang masuk. Dari NTB terbatas, Sulawesi tidak masuk lagi sekarang, jadi harga sapi yang biasanya 20 juta itu bisa naik jadi sekitar 22,5 juta,” ujar Ponirin, peternak sapi.
Meskipun pasokan terbatas, ia memastikan ketersediaan sapi di kandangnya masih mencukupi untuk kebutuhan kurban tahun ini. Hal ini karena ia telah melakukan pengembangan populasi serta penggemukan sejak tahun lalu.
Ponirin berharap pemerintah daerah dapat membantu mempermudah akses masuk sapi dari luar pulau ke Tabalong, sehingga ketersediaan ternak tetap terjaga dan harga dapat kembali stabil.
Nova Arianti, TV Tabalong, melaporkan.
