Musim kemarau menjadi ancaman bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Tabalong. Penurunan debit air, kadar oksigen, serta perubahan suhu dapat memicu kematian ikan. DKP3 Tabalong mengimbau pembudidaya meningkatkan pengawasan dan mengurangi populasi ikan.
Kondisi kemarau membuat pembudidaya ikan perlu lebih waspada, terutama pembudidaya ikan keramba di Sungai Tabalong, yang terdampak penurunan debit air dan kadar oksigen terlarut. Kepala Bidang Perikanan DKP3 Tabalong Agus Norrahman menyebut, kondisi tersebut, ditambah fluktuasi suhu yang ekstrem, dapat meningkatkan risiko kematian ikan.
Untuk mengurangi risiko kerugian, pembudidaya diimbau memantau kondisi kesehatan ikan secara rutin, serta memberikan obat atau vitamin jika diperlukan. Pembudidaya juga disarankan mengurangi populasi ikan di keramba. Jika kondisi pasar memungkinkan, ikan yang sudah siap panen dapat segera dipanen.
“Kami memberikan edukasi kepada para pembudidaya keramba dari Sungai Tabalong diantaranya yakni adalah memastikan bahwa ikan-ikan yang dipelihara dalam kondisi sehat, kemudian kita juga memberikan edukasi, memberikan pencerahan kalau memungkinkan dari segi pasar itu tersedia lebih baik panen secepatnya, kemudian juga bisa juga melakukan pengurangan populasi yang ada di keramba. Kami juga memberikan semacam imbauan untuk satu sampai 3 minggu ke depan untuk tidak melakukan penebaran benih baru pada unit-unit keramba, kalaupun ada keinginan yang besar dari masyarakat kami mengedukasi untuk melakukan pengurangan populasi yang biasanya diberikan 1.000 mungkin bisa dikurangi populasinya,” ujar Agus Norrahman, Kabid Perikanan DKP3 Tabalong.
DKP3 Tabalong juga mengimbau pembudidaya menunda penebaran benih baru selama satu hingga tiga minggu ke depan, terutama jika kondisi air masih belum mendukung. Kebersihan kolam dan keramba juga perlu dijaga, agar sampah tidak menyumbat aliran air. Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko kematian ikan, sekaligus membantu pembudidaya mengurangi potensi kerugian selama musim kemarau.
Maria Ulfah, TV Tabalong, melaporkan.
