TANJUNG – Meski kejadian karhutla di Kabupaten Tabalong terpantau minim, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah. BPBD Tabalong menyebut, kondisi tersebut diduga bukan berasal dari kebakaran di Tabalong, melainkan asap dari wilayah lain yang terbawa angin.
Kabut asap masih terlihat menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Tabalong. Kondisi udara yang terlihat pekat ini, juga mengganggu jarak pandang warga saat beraktivitas di luar ruangan.
Bahkan tingkat kualitas udara Tabalong yang tercatat pada aplikasi Indeks Standar Pencemaran Udara ISPU.net pada Senin, 5 Oktober 2026 siang masih dalam kategori berbahaya.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya karhutla di wilayah Tabalong. BPBD Tabalong memastikan, hingga kini tidak ditemukan kejadian karhutla yang signifikan.
Bahkan berdasarkan Sistem Pemantauan Karhutla atau Sipongi, hanya terdeteksi satu hotspot di Desa Maburai, Kecamatan Murung Pudak. Namun, titik tersebut diperkirakan bukan merupakan titik api.
Kepala BPBD Tabalong, Haris Fakhrozi menyebut, berdasarkan data BMKG dan citra Satelit Himawari per 3 Oktober 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah bagian barat dan utara Kalimantan Selatan. Sementara, angin yang berembus dari arah timur tenggara dengan kecepatan lima hingga 15 knot, diduga membawa sebaran asap hingga ke Tabalong.
“Informasi yang disampaikan BMKG berdasarkan citra Satelit Himawari pada tanggal 3 Oktober kemarin dipukul 17.00 WITA, adanya asap di wilayah barat Kalsel dan kemudian adanya pergerakan angin menuju ke wilayah utara Kalsel yaitu di wilayah Tabalong, sehingga menimbulkan asap yang pekat,” ujar Haris Fakhrozi, Kepala BPBD Tabalong.
Menghadapi kondisi ini, BPBD Tabalong mengimbau masyarakat tetap waspada dan menjaga kondisi kesehatan. Terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan untuk mengurangi paparan asap saat kualitas udara menurun.
Muhamad Khairillh, TV Tabalong melaporkan.
