Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Tabalong memberikan pelatihan pembuatan biotron dan asam humat kepada 66 penyuluh pertanian ASN di Tabalong. Para PPL diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan informasi pelatihan pada para petani, untuk menyuburkan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Tabalong menggelar pelatihan pembuatan biotron dan asam humat di Aula DKP3 Tabalong pada 1 September 2026. Kegiatan ini diikuti 66 penyuluh pertanian ASN Kementerian Pertanian yang bertugas di Kabupaten Tabalong.
Kepala DKP3 Tabalong, Fahrul Raji menyebut kegiatan ini menjadi program edukasi bagi para penyuluh sebelum pengetahuan tersebut disosialisasikan kepada petani di wilayah masing-masing. Biotron dan asam humat diperkenalkan sebagai bahan pembenah tanah alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Kondisi tanah yang jenuh dapat membuat penyerapan air dan nutrisi menjadi kurang optimal, sehingga pemanfaatan bahan organik diharapkan dapat membantu mengembalikan kondisi tanah agar lebih sehat dan mendukung pertumbuhan tanaman.
“Jadi kita tahu kan Kabupaten Tabalong ini terbagi dari 3 wilayah ya, utara, tengah, dan selatan, dan tentunya karakter tanahnya juga beda-beda. Namun, tanah itu kan ada memiliki sifat jenuh ya, jadi jenuh artinya tanah itu misalnya ada air, nah itu dia jadi kurang menyerap tanah karena sifatnya sudah jenuh atau tanah itu stres. Nah akhirnya perlu kita kembalikan lagi supaya kesegaran tanah itu balik lagi. Oleh karena itu kita lakukan solusi atau upaya-upaya. Dalam hal upaya ini bukan dengan kimia tapi kita kembali ke alam dengan bahan organik ya itu tadi dengan kegiatan kita ini,” kata Fahrul Raji, Kepala DKP3 Tabalong.
Pemateri dalam kegiatan ini yang juga merupakan Widyaiswara Ahli Madya dan Spesialis Rekayasa Material Organik dari Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang, Budiono mengatakan, pelatihan ini tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan penyuluh, namun juga diharapkan memberikan dampak terhadap efisiensi usaha tani. Materi yang diberikan selanjutnya diharapkan dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada petani, sesuai dengan kondisi lahan di masing-masing wilayah.
“Harapannya dalam tempo satu tahun ke depan tanah akan menjadi lebih baik sehingga memberikan kontribusi mengurangi biaya produksi. Ada peningkatan produksi sekitar 20–36 persen dengan biaya berkurang sebanyak 26 sampai 36 persen secara bertahap. Dan akhirnya nanti tanah akan menjadi lebih sehat, tanaman juga akan sehat, dan tentunya produk akan lebih sehat seperti halnya sekarang ini kita makan nasi itu bukan hanya karbohidrat saja tapi ada juga terkandung di dalamnya logam berat ataupun bahan-bahan residu dari pertanian yang belum ramah lingkungan,” kata Budiono, Widyaiswara Ahli Madya dan Spesialis Rekayasa Material Organik.
Melalui pelatihan ini, pihaknya berharap penyuluh dapat menjadi penghubung pengetahuan dan praktik pertanian ramah lingkungan kepada petani, sehingga perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan secara bertahap, sekaligus mendukung efisiensi biaya dan peningkatan hasil produksi pertanian di Tabalong.
Muhammad Khairillah, TV Tabalong melaporkan.
