Pemkab Tabalong berkomitmen untuk tetap mengoptimalkan penanganan kasus karhutla menyusul sempat tingginya indeks standar pencemaran udara di Tabalong, yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi karhutla di Tabalong sendiri dinilai masih terkendali, jika dibanding daerah lain di Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data BPBD Kalimantan Selatan per 28 Agustus 2026, luas lahan terbakar terbesar terjadi di Kabupaten Banjar, mencapai 2.285 hektare. Disusul Tanah Laut sekitar 1.800 hektare, dan Banjarbaru 1.547 hektare. Sementara Tabalong berada di posisi kesembilan, dengan luas lahan terdampak sekitar 135 hektare.
Berdasarkan data terbaru BPBD Tabalong per 31 Agustus 2026, tercatat 65 kali kejadian karhutla, dengan total luas area terbakar 182,72 hektare, yang didominasi lahan non-gambut. Jumlah ini dinilai masih relatif kecil, jika dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Selatan. Bupati Tabalong Muhammad Noor Rifani berkomitmen pihaknya akan bersiaga mengendalikan kasus karhutla di Tabalong.
“Kemudian kami dapat sampaikan kepada masyarakat laporan dari BPBD sebenarnya titik api di Kabupaten Tabalong ini sangat kecil. Jadi ibarat orang itu sebenarnya asap ini bukan berasal dari internal kita, dari daerah Tabalong, tapi ini sebenarnya dari tempat lain. Saya tidak tahu di mana tempat lain, kemudian akhirnya sampai ke tempat kita,” ujar M. Noor Rifani, Bupati Tabalong.
Mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu karhutla. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah meluasnya kebakaran, sekaligus menjaga kualitas udara di Tabalong.
Gazali Rahman, TV Tabalong, melaporkan.
