Penderita hipertensi dan kolesterol tinggi tetap dapat menikmati daging kurban pada momen Idul Adha. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar konsumsi daging tidak memicu gangguan kesehatan.
Melimpahnya daging kurban saat Hari Raya Idul Adha sering kali mendorong masyarakat untuk menikmatinya dalam jumlah besar. Namun, bagi penderita hipertensi dan kolesterol tinggi, konsumsi daging perlu dilakukan dengan bijak agar tetap aman bagi kesehatan.
Dokter umum sekaligus Kepala Puskesmas Tanta, Ony Erawaty, menjelaskan bahwa penderita hipertensi maupun kolesterol tinggi tetap boleh mengonsumsi daging merah. Syaratnya, daging yang dikonsumsi harus merupakan daging tanpa lemak dan dikonsumsi dalam jumlah terbatas.
Untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil, takaran daging yang disarankan berkisar antara 25 hingga 50 gram per hari. Selain jumlahnya, cara pengolahan juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.
Dokter Ony menyarankan daging diolah dengan cara direbus. Air rebusan pertama sebaiknya dibuang dan lemak yang mengapung di permukaan diangkat terlebih dahulu. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kandungan lemak pada daging.
“Biasanya kita olah dengan perebusan, direbus dulu daging itu. Air rebusannya dibuang dulu yang pertama atau gajih-gajihnya diangkat, disaring begitu. Jadi tidak memakai air yang awal, jadi dua kali prosesnya. Kalau ingin memasaknya, masak saja yang direbus, jangan digoreng, jadi mengurangi minyak. Jangan terlalu banyak santan, pengolahan yang terlalu berlebihan, dalam artian kompleks yang pakai santan dan berkali-kali, nah itu yang cenderung lebih berbahaya,” ujar dr. Ony Erawaty, Kepala Puskesmas Tanta.
Selain menghindari makanan yang digoreng dan bersantan, penderita hipertensi dan kolesterol juga diingatkan untuk tidak mengonsumsi jeroan. Pasalnya, jeroan mengandung lemak jenuh dan kolesterol jahat atau LDL yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Maria Ulfah, TV Tabalong, melaporkan.
