Dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun, Pemerintah Desa Warukin untuk pertama kalinya menggelar lomba nikep atau manangguk. Tidak hanya menjadi ajang lomba, namun kegiatan tersebut juga menjadi upaya melestarikan budaya dan menjaga ekosistem sungai.
Lomba nikep atau manangguk digelar di Sungai Kamatang pada Minggu 9 Agustus 2026, yang dimulai pada pukul 2 siang. Lomba ini mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat.
Sejak pendaftaran dibuka, tercatat sekitar 70 warga yang ingin berpartisipasi. Namun saat pelaksanaan di hari H, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 100 peserta. Setiap peserta membawa peralatannya masing-masing berupa tangguk sebagai ciri khas nikep, yang umumnya dibuat dari rotan.
Tak hanya tangguk, warga juga menggunakan bakul sederhana yang dapat dibuat dari daun yang ditemukan di hutan. Cara tradisional ini dinilai menjadi bagian dari warisan masyarakat Dayak, sekaligus mengajarkan warga untuk menangkap ikan dengan alat tangkap sederhana, tanpa merusak lingkungan.
“Jadi sekarang hilangkan budaya seperti menyetrum ikan, meracuni ikan. Jadi kita kembalikan ke budaya awal supaya lingkungan kita menjadi lestari dan ikan-ikan pun tidak punah,” ujar Dedi Unjang, Kepala Desa Warukin.
Melalui lomba nikep, Pemerintah Desa Warukin berharap tradisi lama tetap dikenal dan dilaksanakan generasi berikutnya, sekaligus menjadi cara warga menjaga kebersihan serta kelestarian sungai. Kegiatan ini juga dirancang untuk menjadi event tahunan di Desa Warukin.
Muhamad Khairillah, TV Tabalong melaporkan.
