Konflik di Timur Tengah menyebabkan berbagai bahan kebutuhan mengalami kenaikan harga, salah satunya bahan baku tempe yaitu kedelai. Untuk mengantisipasi kerugian, produsen melakukan berbagai cara, salah satunya dengan mengurangi berat tempe.
Hal ini disampaikan salah satu produsen tempe asal Tabalong, Dicky Setiawan, saat ditemui di rumah produksinya di Desa Pamarangan Kiwa, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong.
Bahan baku tempe, yakni kedelai, diketahui mengalami kenaikan harga cukup signifikan, dari sebelumnya 510 ribu rupiah per karung isi 50 kilogram sebelum bulan Ramadan, kini menjadi 580 ribu rupiah.
Produsen tempe dan tahu, Dicky Setiawan, mengatakan konflik Timur Tengah memberikan dampak nyata terhadap usaha tempe dan tahu karena bahan baku yang digunakan merupakan hasil impor. Ia juga menyebutkan, kenaikan tidak hanya terjadi pada kedelai, tetapi juga pada harga plastik untuk pengemasan.
“Kalau biasanya kenaikan harga kedelai itu hanya kedelainya saja, sekarang harga plastik dan lainnya juga naik, jadi otomatis biaya operasional bertambah. Kami menyiasatinya supaya keuntungan tidak terlalu tipis, salah satunya dengan mengurangi isi per bungkus sekitar 20 sampai 30 gram dari ukuran awal,” ujar Dicky Setiawan, produsen tempe dan tahu.
Selain tempe, hal serupa juga terjadi pada produksi tahu karena menggunakan bahan baku yang sama. Saat ini, ia memilih hanya menjual tahu dari rekan kerjanya dan tidak memproduksi sendiri.
Ia berharap konflik di Timur Tengah dapat segera mereda sehingga harga bahan baku kembali normal dan usaha produksi tempe dapat berjalan lebih stabil.
Gazali Rahman, TV Tabalong, melaporkan.
