Berawal dari hobi, Aris Sandi, dokter ASN asal Tabalong, berhasil menyulap lahan di samping rumahnya di Desa Garagata, Kecamatan Jaro, menjadi tempat budidaya ribuan anggrek. Koleksinya bahkan meraih tiga penghargaan sekaligus di kontes anggrek nasional.
Memasuki salah satu halaman rumah di Desa Garagata, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong, pengunjung akan langsung disambut ratusan anggrek dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian dirawat di area terbuka, sebagian lagi di dalam ruangan berdinding kawat beratap paranet. Satu ruangan tampak menonjol, dipenuhi deretan anggrek bulan raksasa atau Phalaenopsis gigantea dengan daun besar yang menjuntai.
Inilah rumah anggrek milik Aris Sandi, yang berprofesi sebagai dokter. Pria kelahiran Tabalong tahun 1992 ini mulai menekuni anggrek sejak 2018, saat seorang teman memperkenalkannya pada Dendrobium anosmum asal Tabalong. Berawal dari satu tanaman pemberian, koleksinya kini mencapai 2.500 hingga 3.500 tanaman.
Ketelatenan Aris membuahkan hasil di berbagai kontes tingkat lokal hingga nasional. Puncaknya, di Kontes Nasional Tanah Laut tahun 2024, Phalaenopsis gigantea miliknya memborong tiga penghargaan sekaligus, yakni juara satu kelas, juara satu kategori keseluruhan, dan best of show. Menariknya, anggrek itu ditemukan kawannya di gunung dalam kondisi buruk, sebelum dirawat selama tiga tahun di rumah anggreknya.
“Dulu dikasih teman di sini, anggrek jenis dendrobium. Namanya Dendrobium anosmum, endemik, dapatnya di Kalsel, daerah Tabalong dulu. Nah, pas ngerawat kok ini akarnya bagus. Pas dirawat beberapa bulan daunnya tambah bagus. Pas lihat bunganya tambah jatuh hati. Dari situ mulai beli satu, beli dua, sampai terkumpul beberapa,” ujar Aris Sandi, kolektor anggrek.
Aris juga menyimpan sejumlah koleksi langka yang pernah ditawar hingga jutaan rupiah, namun memilih untuk tidak melepas satu pun. Bagi Aris, ini bukan sekadar hobi, melainkan upaya nyata melestarikan anggrek endemik, khususnya Phalaenopsis gigantea yang kian langka di alam liar. Semoga langkah Aris menginspirasi warga Tabalong untuk turut menjaga kekayaan flora Kalimantan.
Muhamad Khairill, TV Tabalong, melaporkan.
