Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong mengimbau masyarakat untuk tidak panik terhadap penyakit superflu yang saat ini marak dibicarakan di tengah masyarakat. Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa superflu lebih mematikan dibandingkan flu biasa.
Kasus superflu atau varian Influenza A (H3N3) subclade K mulai ramai dibicarakan dan menjadi sorotan publik sejak awal Januari 2026. Di Indonesia, Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah yang ditemukan pasien terindikasi superflu. Gejalanya mirip flu biasa, seperti demam, batuk, dan pilek. Namun, superflu cenderung menyebabkan kelelahan ekstrem, demam tinggi yang sulit turun, serta nyeri otot dan sendi yang lebih hebat.
, Husin Ansari, mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap waspada. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah bahwa virus tersebut lebih berbahaya atau lebih mematikan dibandingkan flu biasa.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, dan meminum vitamin, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga dan dapat terhindar dari penyakit superflu.
“Kami berharap kepada masyarakat untuk bisa menjaga imunitasnya, menjaga kesehatannya agar bisa terhindar dari penyakit superflu tersebut. Misalkan rajin berolahraga, mengonsumsi makanan-makanan sehat serta meminum vitamin, dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungannya, sehingga kita bisa terhindar dari penyakit bukan hanya flu, tetapi juga penyakit-penyakit lainnya.” kata Husin Ansari, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong.
Diketahui, kasus superflu mulai terdeteksi masuk ke Indonesia sejak 25 Desember 2025. Hingga saat ini tercatat sebanyak 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia, salah satunya di Kalimantan Selatan.
Maria Ulfah, TV Tabalong, melaporkan.
