Di balik aroma kopi yang sering tercium dari sebuah kedai kopi di Tabalong, tersimpan proses panjang yang menentukan cita rasa kopi. Barakat Coffee and Micro Roastery tak sekadar menyeduh kopi, tetapi menghadirkan pengalaman proses roasting biji kopi nusantara, termasuk biji kopi lokal Tabalong.
Kedai Barakat Coffee and Micro Roastery dibangun berawal dari kesukaan terhadap kopi. Kedai yang berlokasi di Perumahan Bougenville Permai, Blok R 11A, Kelurahan Belimbing Raya, Kecamatan Murung Pudak ini dimiliki seorang pemuda bernama Brian.
Ia mengaku sudah menekuni dunia kopi sejak lama, sehingga memilih jalur yang tidak banyak dilirik kedai kopi di Tabalong, yaitu roasting atau penyangraian biji kopi secara mandiri. Keputusan ini membuat Barakat Coffee tidak hanya menjadi kedai, tetapi juga rumah produksi biji kopi dengan karakter rasa yang dapat disesuaikan sendiri.
Proses roasting inilah yang menjadi jantung Barakat Coffee. Setiap biji kopi dipanggang dengan profil sangrai tertentu, menyesuaikan karakter kopi asal daerahnya, mulai dari robusta Dampit Malang hingga arabika Gayo dan Ijen.
Namun yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah biji kopi lokal Tabalong. Barakat Coffee secara khusus menyangrai kopi liberika dan robusta dari Wayau, Santuun, Muara Uya, Jangkung, dan Sulingan.
Menurut Brian, roasting kopi liberika Tabalong memiliki tantangan tersendiri karena karakter bijinya yang berbeda dari arabika dan robusta pada umumnya. Namun justru dari proses sangrai inilah muncul keunikan rasa yang menjadi ciri khas, yaitu aroma yang mirip nangka.
Menariknya, hasil biji kopi sangrai Barakat Coffee mulai mendapat perhatian. Pada tahun 2025 lalu, kopi liberika Tabalong yang di-roasting Barakat Coffee dipamerkan di ajang regional expo hingga nasional, bahkan habis terjual hanya dalam hitungan hari.
“Untuk Liberika Wayau dan Santuun, Muara Uya itu, alhamdulillah di 2025 bulan Agustus itu sudah dipamerkan oleh salah satu kedai atau coffee shop besar di Tanjung, Sukadish. Itu dibawa di Expo Castle di Banjarbaru. Kemudian di bulan September itu dibawakan oleh beliau juga di Jakarta, Expo Nasional Indonesia. Jadi, alhamdulillah dari beberapa line up itu, ya, terutama dari Wayau sendiri, kita stok di range lima kilo. Itu dalam lima hari alhamdulillah ludes terjual di Expo Nasional Jakarta,” ujar Brian, pemilik Barakat Coffee and Micro Roastery.
Brian pun berharap ke depannya kopi Tabalong bisa terus berkembang dan tak hanya berhenti di pasar nasional. Lewat konsistensi kualitas roasting dan kerja sama dengan para petani, ia bertekad menjadikan biji kopi Tabalong mampu bersaing di tingkat internasional.
Dano Nafarin, TV Tabalong, melaporkan.
