Menyikapi terus meningkatnya harga beras Banjar di Tabalong yang berlangsung hingga kini, Dinas Ketahanan Pangan Perikanan dan Pertanian DKP3 Tabalong mulai menyiapkan sejumlah langkah intervensi.
Kenaikan harga beras Banjar yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat, terutama saat Ramadan dan Lebaran. Selain untuk konsumsi harian, permintaan juga meningkat karena kebutuhan zakat fitrah.
Di sisi lain, ketersediaan stok terbatas, menyusul menurunnya produksi beras Banjar dari daerah pemasok di luar Tabalong. Kondisi ini memicu kenaikan harga di tingkat pasar.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris DKP3 Tabalong, Suaidi, mengatakan bahwa pihaknya berupaya melakukan intervensi, salah satunya dengan mencari dan mendorong pengembangan varietas padi yang memiliki produktivitas tinggi namun tetap sesuai dengan selera masyarakat.
“Kita akan upayakan mencari varietas-varietas yang dari segi rasa bisa diterima oleh masyarakat, tetapi juga umur tanam dan produktivitasnya tinggi. Mudah-mudahan bisa mengantisipasi kenaikan harga ini,” Suaidi, Sekretaris DKP3 Tabalong.
Suaidi menjelaskan, secara umum produksi beras di Tabalong sebenarnya mengalami surplus. Namun, tingginya minat masyarakat terhadap beras Banjar yang didatangkan dari luar Tabalong menjadi salah satu faktor sulitnya pengendalian harga di pasaran.
Oleh karena itu, DKP3 Tabalong berharap ke depan produksi beras lokal dapat lebih dikembangkan agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menekan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Nova Arianti, TV Tabalong, melaporkan.
