Hasil bumi, khususnya bawang merah di Kabupaten Tabalong, dinilai sangat menjanjikan. Namun produksi dan produktivitasnya masih di bawah kebutuhan lokal. Hal ini terjadi karena berbagai kendala seperti tingginya modal dan terbatasnya dukungan sarana produksi, sehingga pemerintah menyiapkan strategi kemandirian benih untuk meningkatkan hasil ke depannya.
Potensi hasil bumi di Kabupaten Tabalong cukup beragam, mulai dari tanaman hortikultura hingga buah-buahan. Namun salah satu komoditas yang selalu dicari masyarakat adalah bawang merah. Bukan tanaman asli daerah, komoditas ini dinilai memiliki peluang pasar yang sangat besar.
Analis Pasar Hasil Pertanian DKP3 Tabalong, Sri Astuti menjelaskan, produktivitas bawang merah di Tabalong masih berada di angka sekitar 7 ton per hektar. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional yang sudah mencapai 10 ton per hektar. Selain itu, luas panen di tahun 2025 baru mencapai sekitar 23 hektar, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal secara optimal.
Meskipun demikian, kondisi iklim dan lahan di Tabalong dinilai cukup mendukung untuk pengembangan bawang merah, terutama dengan penggunaan varietas tertentu seperti Bima Brebes. Namun kendala utama masih terletak pada besarnya modal dan kebutuhan sarana produksi, sehingga tidak semua petani mampu mengembangkan komoditas ini secara maksimal.
“Kenyataannya produksi dan produktivitas kita masih belum stabil tapi secara potensi pasar itu sangat berpeluang bagus. jadi kalau produktivitas nasional itu sudah 10 ton per hektar tapi di kampung kita masih kira-kira 7 ton per hektar itu masih di bawah rata-rata nasional tapi masih ada potensi untuk ditingkatkan produktivitas,” ujar Sri Astuti, Analis Pasar Hasil Pertanian DKP3 Tabalong.
Untuk meningkatkan produksi, pemerintah daerah merencanakan strategi pengembangan bawang merah dengan fokus pada kemandirian benih, agar ke depannya petani tidak hanya menghasilkan bawang konsumsi tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan benih secara mandiri.
Muhamad Khairillah, TV Tabalong, melaporkan.
