Home Tabalong Hari IniAnak Wajarkah Anak Mengalami Tantrum?

Wajarkah Anak Mengalami Tantrum?

by tabalong hari ini
0 comment

Hampir setiap orang tua yang memiliki anak pernah merasakan fase tantrum pada anak. Pada fase ini, orang tua harus memiliki cara untuk menghadapi perilaku tersebut. Lantas, cara seperti apa yang bisa diterapkan orang tua, dan apa penyebab tantrum pada anak? Berikut informasinya untuk Anda.

Terapis okupasi, Evi Lukhi Kustanti, dalam program Ruang Sehat TV Tabalong menjelaskan bahwa tantrum merupakan bentuk ledakan emosi anak yang terjadi ketika anak merasa tidak nyaman atau keinginannya tidak terpenuhi.

Pada kondisi tantrum, biasanya anak marah-marah diikuti dengan perilaku berbaring dilantai, berguling-guling, berteriak, menendang, dan melempar semua yang ada di sekitarnya.

Evi menuturkan bahwa fase tantrum sangat wajar terjadi pada anak-anak usia 15 bulan sampai 6 tahun. Namun, ledakan tantrum akan terjadi pada anak usia 2 tahun sampai 4 tahun, yang mana anak masih berada pada tahap awal perkembangan sosial, emosional, dan bahasa. Karena anak belum bisa mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaannya, akibatnya akan menjadi frustasi dan terjadilah tantrum.

Ketika anak mengalami tantrum, hendaknya orang tua mengetahui penyebab atau keinginan anak yang membuat anak tantrum. Dan orang tua harus bisa memilah apakah yang diminta si anak sesuai dengan kebutuhannya atau cuma hanya sekedar keinginan saja. Hal tersebut dilakukan agar orang tua tidak salah dalam menangani anak yang sedang tantrum.

“Kesalahan orang tua ketika menghadapi anak tantrum adalah ketika orang tua tidak tahu dulu penyebabnya apa. Kadang orang tua begitu anak nangis langsung dikasih apa yang buat dia tenang, contohnya misalkan anakku tenang kalau dia dikasih jajan atau tenang kasih hp, nah tanpa tahu dulu kenapa sih anakku ini tantrum,” kata Evi Lukhi Kustanti.

Baca Juga  Terkendala Regulasi, Bantuan Beasiswa Bagi Mahasiswa Masih Mandek

Evi menambahkan, dalam menghadapi anak tantrum, orang tua dilarang untuk melakukan tindakan seperti memarahi anak, memukul, atau mencubit anak, karena menghadapi tantrum dengan tindakan fisik atau kekerasan verbal tidak akan menyelesaikan tantrum anak.

Hendaknya orang tua memiliki aturan yang jelas dalam pola asuh ketika anak mengalami tantrum, sehingga ada batasan atau aturan apabila anak berada di fase tersebut. Selain itu, dalam kondisi tersebut, orang tua hendaknya membangun komunikasi yang baik dengan anak, dan apabila tantrum pada anak telah reda, orang tua bisa memeluk dan membisikkan kata-kata menenangkan bagi anak.

(Nova Arianti/TV Tabalong)

Related Articles

Leave a Comment