Home Editor's Picks Tradisi Bagarakan Sahur Jadi Embrio Pawai Tanglong Kelua

Tradisi Bagarakan Sahur Jadi Embrio Pawai Tanglong Kelua

by tabalong hari ini
0 comment

Gebyar Festival Tanglong Kesembilan tahun 2023, bermula dari tradisi Bagarakan Sahur yang turun temurun sejak zaman Bahari, di wilayah Kecamatan Kelua. Tradisi ini kemudian berkembang mengikuti arus zaman, hingga menjadi wadah para generasi muda menyalurkan kreativitasnya.

Riwayat tersebut diceritakan Ketua Panitia Gebyar Festival Tanglong Kesembilan, Rodzali, yang ditemui usai Pawai Tanglong pada Senin malam 10 April 2023, di Terminal Kelua, Kecamatan Kelua.

Rodzali yang juga merupakan salah satu tetua di Kelua menuturkan, sebelumnya Pawai Tanglong atau dulu lebih dikenal tradisi Bagarakan Sahur dilakukan secara tradisional. Warga Kelua zaman dulu berkeliling dengan cara berjalan kaki, sambil membawa besi rongsokan untuk dipukul dijadikan bunyi-bunyian.

Selain itu, kadang kala panci dan peralatan masak di dapur juga digunakan saat iring-iringan Bagarakan Sahur, sebelum digunakan untuk memasak hidangan bersahur. Serta alat musik Bahari seperti babun dan gong juga masih digunakan. Pakaian yang digunakan pun terkesan seadanya, cukup dengan sarung yang diselempangkan di pundak.

Seiring berjalannya waktu, tradisi Bagarakan Sahur yang merupakan embrio Pawai Tanglong digelar lebih meriah dan modern. Pawai Tanglong kini menjadi wadah generasi muda menyalurkan kreativitasnya, namun tetap dengan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi Bagarakan Sahur.

“Jadi setiap tahun ini berubah-ubah. Sekarang mengikuti tema, misalnya temanya salah satunya ada yang mewakili langgar. Katakanlah langgar A berarti dia menggambarkan langgar dia. Langgar dia yang dipromosikannya ke masyarakat.” ujar Rodzali, Ketua Panitia Gebyar Festival Tanglong ke-IX tahun 2023.

Baca Juga  Dewan Dukung Rehab Total Sirkuit Marido di Tahun 2024 Mendatang

Gebyar Festival Tanglong Kesembilan tahun 2023 mengangkat tema umum menuju peringatan Nuzulul Qur’an. Kita tingkatkan kemajuan yang agamis. Sedangkan untuk tema ornamen atau hiasan mobil Pawai, sesuai kreativitas dan keunikan masing-masing peserta Pawai Tanglong. Diantaranya replika Ka’bah, tempat ibadah, unta, hingga ornamen yang menggambarkan cerita-cerita dalam Al-Quran, seperti pasukan gajah Raja Abraha, paus yang menelan Nabi Yunus, dan siksa api neraka.

Adapun peserta Pawai Tanglong tahun ini berjumlah 32 peserta, termasuk dari kecamatan dan kabupaten lain. Puluhan peserta ini dilepas Bupati Tabalong, Anang Syakhfiani, kemudian berkeliling dari Terminal Kelua menuju Desa Pudak Setegal. Kemudian belok ke arah Desa Ampukung dan Desa Masintan, lalu kembali ke kelurahan Pulau dan Terminal Kelua.

(Alfi Syahrin, TV Tabalong)

Related Articles

Leave a Comment